Tampilkan postingan dengan label Ibroh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ibroh. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Desember 2011

Riya’ Penghapus Amal


Syarat paling utama suatu amalan diterima di sisi Allah adalah ikhlas. Tanpanya, amalan seseorang akan sia-sia belaka. Syaitan tidak henti-hentinya memalingkan manusia, menjauhkan mereka dari keikhlasan. Salah satunya adala melalui pintu riya’ yang banyak tidak disadari setiap hamba.
Yang dimaksud riya’ adalah melakukan suatu amalan agar orang lain bisa melihatnya kemudian memuji dirinya. Termasuk ke dalam riya’ yaitu sum’ah, yakni melakukan suatu amalan agar orang lain mendengar apa yang kita lakukan, sehinga pujian dan ketenaran pun datang tenar. Riya’ dan semua derivatnya merupakan perbuatan dosa dan merupakan sifat orang-orang munafik.
Hukum Riya’
Riya’ ada dua jenis. Jenis yang pertama hukumnya syirik akbar. Hal ini terjadi jika sesorang melakukan seluruh amalnya agar dilihat manusia, dan tidak sedikit pun mengharap wajah Allah. Dia bermaksud bisa bebas hidup bersama kaum muslimin, menjaga darah dan hartanya. Inilah riya’ yang dimiliki oleh orang-orang munafik. Allah berfirman tentang keadaan mereka (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka . Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali” (QS. An Nisaa’:142).
Adapun yang kedua adalah riya’ yang terkadang menimpa orang yang beriman. Sikap riya’ ini terjadang muncul dalam sebagian amal. Seseorang beramal karena Allah dan juga diniatkan untuk selain Allah. Riya’ jenis seperti ini merupakan perbuatan syirik asghar.[1]
Jadi, hukum asal riya’ adalah syirik asghar (syirik kecil). Namun, riya’ bisa berubah hukumnya menjadi syirik akbar (syirik besar) dalam tiga keadaan berikut :
1.       Jika seseorang riya’ kepada manusia dalam pokok keimanan. Misalnya seseorang yang menampakkan dirinya di hadapan manusia bahwa dia seorang mukmin demi menjaga harta dan darahnya.
2.      Jika riya’ dan sum’ah mendominasi dalam seluruh jenis amalan seseorang.
3.       Jika seseorang dalam amalannya lebih dominan menginginkan tujuan dunia, dan tidak mengharapkan wajah Allah.[2]
Ibadah yang Tercampur Riya’
Bagaimanakah status suatu amalan ibadah yang tercampu riya’? Hukum masalah ini dapat dirinci pada beberapa keadaan. Jika seseorang beribadah dengan maksud pamer di hadapan manusia, maka ibadah tersebut batal dan tidak sah. Adapun jika riya’ atau sum’ah muncul di tengah-tengah ibadah maka ada dua keadaan. Jika amalan ibadah tersebut berhubungan antara awal dan akhirnya, misalnya ibadah sholat, maka riya’ akan membatalkan ibadah tersebut jika tidak berusaha dihilangkan dan tetap ada dalam ibadah tersebut. Jenis yang kedua adalah amalan yang tidak berhubungan antara bagian awal dan akhir, shodaqoh misalnya. Apabila seseorang bershodaqoh seratus ribu, lima puluh ribu dari yang dia shodaqohkan tercampuri riya’, maka shodaqoh yang tercampuri riya’ tersebut batal, sedangkan yang lain tidak.[3]
Jika Demikiain Keadaan Para Sahabat, Bagaimana dengan Kita?
Penyakit riya’ dapat menjangkiti siapa saja, bahkan orang alim sekali pun. Termasuk juga para sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum. Para sahabat adalah generasi terbaik umat ini. Keteguhan iman mereka sudah teruji, pengorbanan mereka terhadap Islam sudah tidak perlu diragukan lagi. Namun demikian, Nabi shalallahu ‘alaihi wa salaam masih mengkhawatirkan riya’menimpa mereka. Beliau bersabda, Sesuatu yang aku khawatrikan menimpa kalian adalah perbuatan syirik asghar. Ketika beliau ditanya tentang maksudnya, beliau menjawab: ‘(contohnya) adalah riya’ ”[4]
Dalam hadist di atas terdapat pelajaran tentang takut kapada syirik. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam khawatir kesyirikan menimpa sahabat muhajirin dan anshor, sementara mereka adalah sebaik-baik umat. Maka bagaimana terhadap umat selain mereka? Jika yang beliau khawatirkan menimpa mereka adalah syirik asghar yang tidak mengeluarkan dari Islam, bagaimana lagi dengan syirik akbar? Wal ‘iyadzu billah !! [5]
Lebih Bahaya dari Fitnah Dajjal
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ Maukah kamu kuberitahu tentang sesuatau yang menurutku lebih aku khawatirkan terhadap kalian daripada (fitnah) Al masih Ad Dajjal? Para sahabat berkata, “Tentu saja”. Beliau bersabda, “Syirik khafi (yang tersembunyi), yaitu ketika sesorang berdiri mengerjakan shalat, dia perbagus shalatnya karena mengetahui ada orang lain yang memperhatikannya “[6]
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa riya’ termasuk syirik khafi yang samar dan tersembunyi. Hal ini karena riya’ terkait dengan niat dan termasuk amalan hati, yang hanya diketahui oleh Allah Ta’ala. Tidak ada seseorang pun yang mengetahui niat dan maksud  seseorang kecuali Allah semata. Hadist di atas menunjukkan tentang bahaya riya’, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam khawatir riya’ menimpa para sahabat yang merupakan umat terbaik, apalagi terhadap selain mereka. Kekhawatiran beliau lebih besar daripada kekhawatiran terhadap ancaman fitnah Dajjal karena hanya sedikit yang dapat selamat dari bahaya riya’ ini. Fitnah Dajjal yang begitu berbahaya, hanya menimpa pada orang yag hidup pada zaman tertentu, sedangkan bahaya riya’ menimpa seluruh manusia di setiap zaman dan setiap saat.[7]
Berlindung dari Bahaya Riya’
Berhubung masalah ini sangat berbahaya seperti yang telah dijelaskan di atas, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan kepada kita sebuah doa untuk melindungi diri kita dari syirik besar maupun syirik kecil. Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan kita melalui sabdanya, ‘Wahai sekalian manusia, jauhilah dosa syirik, karena syirik itu lebih samar daripada rayapan seekor semut.’ Lalu ada orang yang bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana kami dapat menjauhi dosa syirik, sementara ia lebih samar daripada rayapan seekor semut?’ Rasulullah berkata, ‘Ucapkanlah Allahumma inni a’udzubika an usyrika bika wa ana a’lam wa astaghfiruka lima laa a’lam (‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik yang aku sadari. Dan aku memohon ampun kepada-Mu atas dosa-dosa yang tidak aku ketahui).”[8]
Tidak Tergolong Riya’
Al Imam an Nawawi rahimahullah membuat suatu bab dalam kitab Riyadus Shalihin dengan judul, “Perkara yang dianggap manusia sebagai riya’ namun bukan termasuk riya’ “. Beliau membawakan hadist dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, “Apa pendapatmu tentang seseorang yang beramal kebaikan kemudian dia mendapat pujian dari manusia?: Beliau menjawab, “Itu adalah kebaikan yang disegerakan bagi seorang mukmin “ (H.R. Muslim 2642).
Di antara amalan-amalan yang tidak termasuk riya’ adalah :
1. Rajin beribadah ketika bersama orang shalih. Hal ini terkadang menimpa ketika seseorang berkumpul dengan orang-orang shaleh sehingga lebih semangat dalam beribadah. Hal ini tidak termasuk riya’. Ibnu Qudamah mengatakan, “Terkadang seseorang menginap di rumah orang yang suka bertahajud (shalat malam), lalu ia pun ikut melaksanakan tahajud lebih lama. Padahal biasanya ia hanya melakukan shalat malam sebentar saja. Pada saat itu, ia menyesuaikan dirinya dengan mereka. Ia pun ikut  berpuasa ketika mereka berpuasa. Jika bukan karena bersama orang yang ahli ibadah tadi, tentu ia tidak rajin beribadah seperti ini”
2. Menyembunyikan dosa. Kewajiban bagi setiap muslim apabila berbuat dosa adalah menyembunyikan dan tidak menampakkan dosa tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap umatku akan diampuni kecuali orang yang menampakkan perbuatan dosanya. Di antara bentuk menampakkan dosa adalah seseorang di malam hari melakukan maksiat, namun di pagi harinya –padahal telah Allah tutupi-, ia sendiri yang bercerita, “Wahai fulan, aku semalam telah melakukan maksiat ini dan itu.” Padahal semalam Allah telah tutupi maksiat yang ia lakukan, namun di pagi harinya ia sendiri yang membuka ‘aib-‘aibnya yang telah Allah tutup.”[9]
3. Memakai pakaian yang bagus. Hal ini tidak termasuk riya’ karena termasuk keindahan yang disukai oleh Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk surga seseorang yang dalam hatinya terdapat sifat sombong walau sebesar dzarrah (semut kecil).” Lantas ada seseorang yang berkata,“Sesungguhnya ada orang yang suka berpenampilan indah (bagus) ketika berpakaian atau ketika menggunakan alas kaki.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan menyukai keindahan. Yang dimaksud sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia” [10]
4. Menampakkan syiar Islam. Sebagian syariat Islam tidak mungkin dilakukan secara sembunyi-sembunyi, seperti haji, umroh, shalat jama’ah dan shalat jum’at. Seorang hamba tidak berarti riya’ ketika menampakkan ibadah tersebut, karena di antara keawajiban yang ada harus ditampakkan dan diketahui manusia yang lain. Karena hal tersebut merupakan bentuk penampakan syiar-syiar islam.[11]
Ikhlas Memang Berat
Pembaca yang budiman, ikhlas adalah satu amalan yang sangat berat. Fitnah dunia membuat hati ini susah untuk ikhlas. Cobalah kita renungkan setiap amalan kita, sudahkah terbebas dari maksud duniawi? sudahkah semuanya murni ikhlas karena Allah Ta’ala? Jangan sampai ibadah yang kita lakukan siang dan malam menjadi sia-sia tanpa pahala. Sungguh, ikhlas memang berat. Urusan niat dalam hati bakanlah hal yang mudah. Tidaklah salah jika Sufyan ats Tsauri rahimahullah mengatakan, “ Tidaklah aku berusaha untuk membenahi sesuatu yang lebih berat  daripada meluruskan niatku, karena niat itu senantiasa berbolak balik”[12]. Hanya kepada Allah kita memohon taufik. Wallahu a’lam.
Penulis: Adika Mianoki
Catatan kaki :
[1]. I’aanatul Mustafiid bi Syarhi Kitaabi at Tauhiid II/84. Syaikh Shalih Fauzan. Penerbit Markaz Fajr
[2]. Al Mufiid fii Muhimmaati at Tauhid 183. Dr. ‘Abdul Qodir as Shufi. Penerbit Daar Adwaus Salaf. Cetakan pertama 1428/2007
[3]. Lihat Al Mufiid 183
[4]. Diriwayatkan oleh Ahmad di dalam al Musnad (V/428, 429) dan ath Thabrani dalam al Kabiir (4301) dan dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam as Shahiihah (951) dan Shahiihul Jami’ (1551)
[5]. I’aanatul Mustafiid I/90
[6], H.R Ahmad dalam musnadnya. Dihasankan oleh Syaikh Albani Shahiihul Jami’ (2604)
[7]. I’aanatul Mustafiid II/90
[8]. HR. Ahmad (4/403). Dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam Shahiihul Jami’ (3731) dan Shahih at Targhiib wa at Tarhiib (36).
[9]. HR. Bukhari (6069) dan Muslim (2990)
[10]. HR.Muslim (91)
[11]. Lihat pembahsan ini dalam Bahjatun Nadzirin Syarh Riyadhis Shalihin, III/140-142, Syaikh Salim al Hilali, Daar Ibnul Jauzi
[12]. Dinukil dari Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam 34, Imam Ibnu Rajab al Hambali, Penerbit Daar Ibnul Jauzi.

Di Tengah Era Fitnah dan Kelalaian


Segala puji bagi Allah yang menciptakan kehidupan dan kematian sebagai bentuk ujian bagi segenap insan. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada rasul pembawa rahmat bagi seru sekalian alam. Amma ba’du.
Masa-masa yang penuh dengan kekacauan (baca: fitnah) dan kelalaian adalah masa-masa yang membutuhkan kesiap-siagaan pada diri setiap insan. Tidakkah kita ingat bersama, wahai saudaraku semoga Allah menjagaku dan menjagamu… bahwa menjadi orang yang istiqomah di atas ketaatan di kala-kala fitnah merajalela adalah sebuah keutamaan yang sangat besar…
Dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Beribadah di kala fitnah berkecamuk laksana berhijrah kepadaku.” (HR. Muslim)
Menjadi orang yang teguh di atas kebenaran di saat manusia tenggelam dalam kesesatan jelas merupakan sebuah keutamaan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Islam datang dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing pula. Maka beruntunglah orang-orang yang asing.” (HR. Muslim)
Siapakah yang dimaksud dengan orang-orang yang asing itu? Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa mereka itu adalah, “Orang-orang yang berbuat baik tatkala orang-orang lain berbuat kerusakan.” (HR. Thabrani, disahihkan sanadnya oleh Syaikh al-Albani)
Ingatkah engkau wahai saudaraku… bahwa kebaikan paling utama yang saat ini banyak dilalaikan oleh manusia adalah tauhid, iman dan keikhlasan?
Tentang keutamaan tauhid, maka kita semua ingat bahwa tauhid inilah yang menjadi tujuan diciptakannya seluruh jin dan manusia. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat: 56). Para ulama salaf menafsirkan bahwa makna ibadah di sini adalah tauhid…
Lihatlah umat manusia yang ada… betapa banyak di antara mereka yang melalaikan tauhid! Sehingga mereka terjerumus dalam berbagai perbuatan syirik… Entah itu syirik besar maupun kecil, entah itu yang tampak maupun yang tersembunyi… Padahal, kita semua tahu betapa besar bahaya dosa yang satu ini, sampai-sampai Allah mengatakan (yang artinya), “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan akan mengampuni dosa lain yang berada di bawah tingkatan syirik, yaitu bagi orang-orang yang Allah kehendaki.” (QS. an-Nisaa’: 48)
Tentang pentingnya keimanan, maka terlalu banyak dalil yang menunjukkan betapa besar peranan iman bagi kehidupan setiap insan. Di antaranya Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang akan mendapatkan keamanan, dan mereka itulah orang-orang yang diberikan hidayah.” (QS. al-An’aam: 82). Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Demi masa, sesungguhnya semua manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati untuk menetapi kesabaran.” (QS. al-’Ashr: 1-3)
Lihatlah umat manusia yang ada di sekitar kita… betapa banyak orang yang rela menjual keimanannya demi mendapatkan kesenangan dunia yang hanya sementara! Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bersegeralah dalam melakukan amalan-amalan sebelum datangnya fitnah-fitnah yang seperti potongan-potongan malam yang gelap gulita. Pada pagi hari seorang masih beriman namun di sore harinya dia menjadi kafir, atau pada sore hari dia beriman namun di pagi harinya dia menjadi kafir. Dia menjual agamanya demi mendapatkan kesenangan dunia.” (HR. Muslim)
Adapun, tentang keagungan ikhlas… maka banyak sekali dalil yang menunjukkan hal itu kepada kita. Di antaranya, Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah mereka diperintahkan kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama untuk-Nya…” (QS. al-Bayyinah: 5). Dari Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya setiap amal itu diukur dengan niatnya. Dan setiap orang akan diberi balasan seperti apa yang dia niatkan. Maka barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan rasul-Nya, niscaya hijrahnya akan sampai kepada Allah dan rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena motivasi dunia atau karena keinginan menikahi seorang wanita, maka hijrahnya hanya akan mendapatkan balasan seperti apa yang dia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Lihatlah, berbagai fenomena yang ada di tengah umat manusia… Betapa banyak indikasi yang mencerminkan rusaknya nilai-nilai keikhlasan ini di dalam aktifitas hidup mereka. Penyakit riya’ dan ujub seolah telah menjadi wabah yang merambah kemana-mana… Orang yang sholat, orang yang bersedekah, orang yang berdakwah, orang yang mengajarkan kebaikan… tidaklah ada satu celah kebaikan kecuali setan berusaha untuk membidikkan anak panah ujub dan riya’ ini kepadanya…
Oleh sebab itu, Allah mengajarkan kepada kita untuk senantiasa membaca Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in di dalam sholat kita… Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan -menukil keterangan gurunya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah- bahwa iyyaka na’budu merupakan senjata untuk melawan penyakit riya’, sedangkan iyyaka nasta’in merupakan senjata untuk melumpuhkan penyakit ujub…
Saudaraku.., semoga Allah meneguhkan kita di atas kebenaran.. Tauhid, iman dan keikhlasan inilah yang menjadi perisai hidup seorang muslim. Tidak ada nilainya harta dan keturunan apabila tidak diiringi dengan tauhid, iman dan keikhlasan. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Pada hari -kiamat- tidaklah berguna harta dan keturunan kecuali bagi orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.” (QS. asy-Syu’ara’: 88-89)
Tidaklah seorang hamba mendapatkan kemuliaan derajat di sisi Allah kecuali karena tauhid, iman dan keikhlasan yang mewarnai tindak-tanduk dan perilakunya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tujuh golongan yang diberi naungan oleh Allah pada hari tiada lagi naungan kecuali naungan dari-Nya: [1] Seorang pemimpin yang adil, [2]  pemuda yang tumbuh dalam ketekunan beribadah kepada Allah, [3] lelaki yang hatinya bergantung di masjid, [4] dua orang yang saling mencintai karena Allah; mereka bertemu dan berpisah karena-Nya, [5] seorang lelaki yang diajak berbuat keji oleh seorang wanita berkedudukan dan cantik namun ia mengatakan, ‘Aku takut kepada Allah’, [6] orang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, dan [7] seorang yang mengingat Allah di kala sepi lalu berlinanglah air matanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka di masa-masa yang penuh dengan fitnah dan kelalaian semacam ini setiap muslim harus berjuang mempertahankan tauhid, keimanan dan keikhlasan yang ada di dalam dirinya. Semoga Allah ta’ala menunjuki kita kepada kebenaran dan meneguhkan kita di atasnya, dan semoga Allah menunjuki kita kebatilan dan menjauhkan kita darinya. Wallahul musta’an.

Peristiwa di Padang Mahsyar

Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat dan seluruh kaum muslimin yang senantiasa berpegang teguh pada sunnah Beliau sampai hari kiamat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلاً
“Manusia akan dikumpulkan pada hari Kiamat dalam keadaan tidak beralas kaki, tidak berpakaian dan belum dikhitan.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 5102 dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha).
Demikianlah keadaan manusia tatkala bertemu dengan Allah Ta’ala di Padang Mahsyar dalam keadaan tidak beralas kaki, tidak berpakaian dan belum dikhitan. Meskipun demikian, akhirnya mereka diberi pakaian juga. Dan manusia yang pertama kali diberi pakaian adalah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ أَوَّلَ مَنْ يُكْسَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِبْرَاهِيْمُ
“Sesungguhnya orang pertama yang diberi pakaian pada hari Kiamat adalah Nabi Ibrahim.” (Hadits shahih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 4371).
Adapun pakaian yang dikenakannya ketika itu adalah pakaian yang dikenakan ketika mati. Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
اَلْمَيِّتُ يُبْعَثُ فِيْ ثِيَابِهِ الَّتِيْ يَمُوْتُ فِيْهَا
“Mayit akan dibangkitkan dengan pakaian yang dikenakannya ketika mati.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Hibban dalam Shahih-nya. Hadits ini dinilai shahih oleh al-Albani dalam Shohiih at-Targhib wat-Tarhib, no. 3575)
Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, tatkala hendak menguburkan jenazah ibunya, beliau meminta agar jenazah ibunya dikafani dengan pakaian yang baru. Beliau mengatakan, “Perbaguskanlah kafan jenazah kalian, karena sesungguhnya mereka akan dibangkitkan dengan (memakai) pakaian itu.” (Fat-hul Bari Syarah Shahih al-Bukhari, 11/383).
Bagaimana Manusia Digiring Ke Padang Mahsyar?
Manusia digiring ke Padang Mahsyar dengan berbagai kondisi yang berbeda sesuai dengan amalnya. Ada yang digiring dengan berjalan kaki, sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
إِنَّكُمْ مُلاَقُو اللهِ حُفَاةً عُرَاةً مُشَاةً غُرْلاً
“Sesungguhnya kalian akan menjumpai Allah dalam keadaan tidak beralas kaki, tidak berpakaian, berjalan kaki, dan belum dikhitan.” (Hadits shahih. Diriwayat-kan oleh al-Bukhari, no. 6043)
Ada juga yang berkendaraan. Namun tidak sedikit yang diseret di atas wajah-wajah mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّكُمْ تُحْشَرُوْنَ رِجَالاً وَرُكْبَانًا وَتُجَرُّوْنَ عَلَى وُجُوْهِكُمْ
“Sesungguhnya kalian akan dikumpulkan (ke Padang Mahsyar) dalam keadaan berjalan, dan (ada juga yang) berkendaraan, serta (ada juga yang) diseret di atas wajah-wajah kalian.” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, dan beliau mengatakan, “Hadits hasan.” Hadits ini dinilai hasan oleh al-Albani dalam Shahiih at-Targhib wat-Tarhib, no. 3582).
Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa ada seseorang berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
يَا رَسُولَ اللهِ كَيْفَ يُحْشَرُ الْكَافِرُ عَلَى وَجْهِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟ قَالَ: أَلَيْسَ الَّذِي أَمْشَاهُ عَلَى رِجْلَيْهِ فِي الدُّنْيَا قَادِرًا عَلَى أَنْ يُمْشِيَهُ عَلَى وَجْهِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟!
“Wahai Rasulullah, bagaimana bisa orang kafir digiring di atas wajah mereka pada hari Kiamat?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Bukankah Rabb yang membuat seseorang berjalan di atas kedua kakinya di dunia, mampu untuk membuatnya berjalan di atas wajahnya pada hari Kiamat?!” Qatadah mengatakan, “Benar, demi kemuliaan Rabb kami.” (Hadits shahih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 6042 dan Muslim, no. 5020).
Ketika Matahari Didekatkan Dengan Jarak Satu Mil
Kaum muslimin yang kami muliakan, ketika manusia dikumpulkan di padang Mahsyar, matahari didekatkan sejauh satu mil dari mereka, sehingga manusia berkeringat, hingga keringat tersebut menenggelamkan mereka sesuai dengan amalan masing-masing ketika di dunia.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
تُدْنَى الشَّمْسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ الْخَلْقِ حَتَّى تَكُوْنَ مِنْهُمْ كَمِقْدَارِ مِيْلٍ، قَالَ سُلَيْمُ بْنُ عَامِرٍ : فَوَاللهِ، مَا أَدْرِي مَا يَعْنِي بِالْمِيْلِ أَمَسَافَةَ اْلأَرْضِ أَمْ الْمِيْلَ الَّذِي تُكْتَحَلُ بِهِ الْعَيْنُ، قَالَ : فَيَكُوْنُ النَّاسُ عَلَى قَدْرِ أَعْمَالِهِمْ فِي الْعَرَقِ فَمِنْهُمْ مَنْ يَكُوْنُ إِلَى كَعْبَيْهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُوْنُ إِلَى رُكْبَتَيْهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُوْنُ إِلَى حَقْوَيْهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يُلْجِمُهُ الْعَرَقُ إِلْجَامًا، وَأَشَارَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ إِلَى فِيْهِ
“Pada hari kiamat, matahari didekatkan jaraknya terhadap makhluk hingga tinggal sejauh satu mil.” –Sulaim bin Amir (perawi hadits ini) berkata: “Demi Allah, aku tidak tahu apa yang dimaksud dengan mil. Apakah ukuran jarak perjalanan, atau alat yang dipakai untuk bercelak mata?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sehingga manusia tersiksa dalam keringatnya sesuai dengan kadar amal-amalnya (yakni dosa-dosanya). Di antara mereka ada yang keringatnya sampai kedua mata kakinya. Ada yang sampai kedua lututnya, dan ada yang sampai pinggangnya, serta ada yang tenggelam dalam keringatnya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan isyarat dengan meletakkan tangan ke mulut beliau.” (Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2864)
Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Jarak satu mil ini, baik satu mil yang biasa atau mil alat celak, semuanya dekat. Apabila sedemikian rupa panasnya matahari di dunia, padahal jarak antara kita dengannya sangat jauh, maka bagaimana jika matahari tersebut berada satu mil di atas kepala kita?!” (Syarah al-’Aqidah al-Wasithiyyah, 2/134).
Jika matahari di dunia ini didekatkan ke bumi dengan jarak 1 mil, niscaya bumi akan terbakar. Bagaimana mungkin di akherat kelak matahari didekatkan dengan jarak 1 mil namun makhluk tidak terbakar?
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa pada hari Kiamat kelak tatkala manusia dikumpulkan di padang mahsyar, kekuatan mereka tidaklah sama dengan kekuatan mereka ketika hidup di dunia. Akan tetapi mereka lebih kuat dan lebih tahan. Seandainya manusia sekarang ini berdiri selama 50 hari di bawah terik matahari tanpa naungan, tanpa makan, dan tanpa minum, niscaya mereka tidak mungkin mampu melakukannya, bahkan mereka akan binasa. Namun pada hari Kiamat kelak, mereka mampu berdiri selama 50 tahun tanpa makan, tanpa minum, dan tanpa naungan, kecuali beberapa golongan yang dinaungi Allah Ta’ala. Mereka juga mampu menyaksikan kengerian-kengerian yang terjadi. Perhatikanlah keadaan penghuni Neraka yang disiksa (dengan begitu kerasnya), namun mereka tidak binasa karenanya. Allah Ta’ala berfirman:
كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُوْدُهُمْ بَدَّلْنَاهُمْ جُلُوْدًا غَيْرَهَا لِيَذُوْقُوا الْعَذَابَ (56)
“Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan adzab.” (An-Nisa’: 56). (Syarah Al-’Aqidah Al-Wasithiyyah, 2/135)
Golongan Yang Akan Mendapatkan Naungan ‘Arsy Allah Ta’ala
Pada hari yang sangat panas itu, Allah Ta’ala akan memberikan naungan kepada sebagian hamba pilihan-Nya. Tidak ada naungan pada hari itu kecuali naungan-Nya semata. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah dengan naungan ‘Arsy-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali hanya naungan-Nya semata.
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ: اْلإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ، وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِي اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ
“Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah dengan naungan ‘Arsy-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali hanya naungan-Nya semata.
1.
Imam (pemimpin) yang adil.
2. Pemuda yang tumbuh besar dalam beribadah kepada Rabbnya.
3. Seseorang yang hatinya senantiasa terpaut pada masjid.
4.  Dua orang yang saling mencintai karena Allah, dimana keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah.
5. Dan seorang laki-laki yang diajak (berzina) oleh seorang wanita yang berkedudukan lagi cantik rupawan, lalu ia mengatakan: “Sungguh aku takut kepada Allah.”
6. Seseorang yang bershodaqoh lalu merahasiakannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfaqkan oleh tangan kanannya.
7.   Dan orang yang berdzikir kepada Allah di waktu sunyi, lalu berlinanglah air matanya.” (Hadits shahih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, II/143 – Fat-h, dan Muslim, no. 1031).
Golongan lain yang mendapatkan naungan Allah Ta’ala adalah orang yang memberi kelonggaran kepada orang yang kesulitan membayar hutang kepadanya atau memutihkan hutang darinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا أَوْ وَضَعَ عَنْهُ أَظَلَّهُ اللهُ فِي ظِلِّهِ
“Barangsiapa yang memberi kelonggaran kepada orang yang sedang kesulitan membayar hutang atau memutihkan hutang orang tersebut, niscaya Allah akan menaunginya dalam naungan Arsy-Nya (pada hari Kiamat).” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 3006)
Semoga Allah Ta’ala memberikan hidayah taufiq dan pertolongan-Nya kepada kita untuk menjadi bagian dari golongan yang mulia ini. Amin
—

Minggu, 04 Desember 2011

KEHIDUPAN SEHARI-HARI YANG ISLAMI

Oleh
Syaikh Abdullah bin Jaarullah bin Ibrahim Al-Jaarullah



Saudaraku....
Dengan penuh pengharapan bahwa kebahagian dunia dan akhirat yang akan kita dapatkan, maka kami sampaikan risalah yang berisikan pertanyaan-pertanyaan ini kehadapan anda untuk direnungkan dan di jawab dengan perbuatan.

Pertanyaan-pertanyaan ini sengaja kami angkat kehadapan anda dengan harapan yang tulus dan cinta karena Allah Subhanahu wa Ta'ala, supaya kita bisa mengambil mannfaat dan faedah yang banyak darinya, disamping itu sebagai bahan kajian untuk melihat diri kita, sudah sejauh mana dan ada dimana posisinya selama ini.

Apakah anda selalu shalat Fajar berjama'ah di masjid setiap hari .?

Apakah anda selalu menjaga Shalat yang lima waktu di masjid .?

Apakah anda hari ini membaca Al-Qur'an .?

Apakah anda rutin membaca Dzikir setelah selesai melaksanakan Shalat wajib .?

Apakah anda selalu menjaga Shalat sunnah Rawatib sebelum dan sesudah Shalat wajib .?

Apakah anda (hari ini) Khusyu dalam Shalat, menghayati apa yang anda baca .?
Apakah anda (hari ini) mengingat Mati dan Kubur .?

Apakah anda (hari ini) mengingat hari Kiamat, segala peristiwa dan kedahsyatannya .?

Apakah anda telah memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala sebanyak tiga kali, agar memasukkan anda ke dalam Surga .? Maka sesungguhnya barang siapa yang memohon demikian, Surga berkata :"Wahai Allah Subhanahu wa Ta'ala masukkanlah ia ke dalam Surga".

Apakah anda telah meminta perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar diselamatkan dari api neraka sebanyak tiga kali .? Maka sesungguhnya barangsiapa yang berbuat demikian, neraka berkata :"Wahai Allah peliharalah dia dari api neraka". Berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang artinya :"Barangsiapa yang memohon Surga kepada Allah sebanyak tiga kali, Surga berkata :"Wahai Allah masukkanlah ia ke dalam Surga. Dan barangsiapa yang meminta perlindungan kepada Allah agar diselamatkan dari api neraka sebanyak tiga kali, neraka berkata :"Wahai Allah selamatkanlah ia dari neraka". [Hadits Riwayat Tirmidzi dan di shahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami No. 911. Jilid 6]

Apakah anda (hari ini) membaca hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam .?

Apakah anda pernah berfikir untuk menjauhi teman-teman yang tidak baik .?

Apakah anda telah berusaha untuk menghindari banyak tertawa dan bergurau .?

Apakah anda (hari ini) menangis karena takut kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala .?

Apakah anda selalu membaca Dzikir pagi dan sore hari .?

Apakah anda (hari ini) telah memohon ampunan kepada Allah Subhanahu wa ta'ala atas dosa-dosa (yang engkau perbuat -pen) .?

Apakah anda telah memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan benar untuk mati Syahid .? Karena sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda yang artinya :"Barangsiapa yang memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan benar untuk mati syahid, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala akan memberikan kedudukan sebagai syuhada meskipun ia meninggal di atas tempat tidur". [Hadits Riwayat Tirmidzi, Nasa'i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dalam shahihnya, Al-Hakim dan ia menshahihkannya]

Apakah anda telah berdo'a kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar ia menetapkan hati anda atas agama-Nya. ?

Apakah anda telah mengambil kesempatan untuk berdo'a kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala di waktu-waktu yang mustajab .?

Apakah anda telah membeli buku-buku agama Islam untuk memahami agama .? [Tentu dengan memilih buku-buku yang sesuai dengan pemahaman yang dipahami oleh para Shahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, karena banyak juga buku-buku Islam yang tersebar di pasaran justru merusak pemahaman Islam yang benar, pent]

Apakah anda telah memintakan ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk saudara-saudara mukminin dan mukminah .? Karena setiap mendo'akan mereka anda akan mendapat kebajikan pula.

Apakah anda telah memuji Allah Subhanahu wa Ta'ala (dan bersyukur kepada-Nya, pent) atas nikmat Islam .?

Apakah anda telah memuji Allah Subhanahu wa Ta'ala atas nikmat mata, telinga, hati dan segala nikmat lainnya .?

Apakah anda hari-hari ini telah bersedekah kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkannya .?

Apakah anda dapat menahan marah yang disebabkan urusan pribadi, dan berusaha untuk marah karena Allah Subhanahu wa Ta'ala saja .?

Apakah anda telah menjauhi sikap sombong dan membanggakan diri sendiri .?

Apakah anda telah mengunjungi saudara seagama, ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta'ala .?

Apakah anda telah menda'wahi keluarga, saudara-saudara, tetangga, dan siapa saja yang ada hubungannya dengan diri anda .?

Apakah anda termasuk orang yang berbakti kepada orang tua .?

Apakah anda mengucapkan "Innaa Lillahi wa innaa ilaihi raji'uun" jika mendapatkan musibah .?

Apakah anda hari ini mengucapkan do'a ini : " Allahumma inii a'uudubika an usyrika bika wa anaa a'lamu wastagfiruka limaa la'alamu = Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan Engkau sedangkan aku mengetahui, dan aku memohon ampun kepada-Mu terhadap apa-apa yang tidak aku ketahui". Barangsiapa yang mengucapkan yang demikian, Allah Subhanahu wa Ta'ala akan menghilangkan darinya syirik besar dan syirik kecil. [Lihat Shahih Al-Jami' No. 3625]

Apakah anda berbuat baik kepada tetangga .?

Apakah anda telah membersihkan hati dari sombong, riya, hasad, dan dengki .?

Apakah anda telah membersihkan lisan dari dusta, mengumpat, mengadu domba, berdebat kusir dan berbuat serta berkata-kata yang tidak ada manfaatnya .?

Apakah anda takut kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam hal penghasilan, makanan dan minuman, serta pakaian .?

Apakah anda selalu bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan taubat yang sebenar-benarnya di segala waktu atas segala dosa dan kesalahan .?

Saudaraku ..
Jawablah pertanyaan-pertanyaan di atas dengan perbuatan, agar kita menjadi orang yang beruntung di dunia dan akhirat, inysa Allah.


[Risalah ini dinukilkan dari buku saku Zaad Al-Muslim Al-Yaumi (Bekalan Muslim Sehari-hari) hal. 51 - 55, bab Hayatu Yaumi Islami yang diambil dari kitab Al-Wabil Ash-Shoyyib oleh Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah, Penerjmeah Fariq Gasim Anuz]

Bersama Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam Menjenguk Orang Sakit

Kunjungan kepada orang sakit termasuk salah satu hak seorang muslim dengan muslim lainnya. Hukumnya mustahab. Supaya setiap individu tidak hanya berpikir urusan pribadinya saja, tetapi juga memiliki kepedulian kepada orang lain.

Untuk memotivasi umat supaya gemar melakukan kegiatan sosial ini, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

عَائِدُ الْمَرِيْضِ فِيْ مَخْرَفَةْ الْجَنَّةِ حَتَّى يَرْجْعَ

Orang yang menjenguk orang sakit akan berada di kebun-kebun surga sampai ia pulang. [HR Muslim, no. 2568].

Kunjungan kepada orang sakit tidak terbatasi oleh sekat agama. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah menjenguk seorang anak Yahudi dan pamannya, Abu Thâlib yang masih musyrik.

Saat berkunjung, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memotivasi dan menanamkan optimisme pada si sakit. Bahwa penyakit yang diderita bukan sebuah mimpi buruk. Ada rahasia Ilahi di baliknya. Dengan demikian, si sakit akan merasa lebih tenang, tidak mengeluhkan takdir atau mencaci penyakit yang sedang dideritanya. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah menegur orang yang mencaci demam (alhumma ) dengan sabdanya:

لَا تَسُبِّي الْحُمَّى

Janganlah engkau cela demam itu…. [HR.Muslim, 2575].

Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menyebut penyakit yang menimpa seorang muslim sebagai thahûr (pembersih dosa) atau kaffârah (pelebur dosa). Ucapan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam ketika mengunjungi orang sakit:

لَا بَأْسَ طَهُورٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

Tidak masalah, ia (penyakit ini) menjadi pembersih (dosa) insya Allah. [HR al-Bukhâri, 5656].

Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam membesarkan hati Ummu ‘Alâ, bibi Hizâm bin Hakîm al-Anshâri yang sedang sakit dengan berkata: “Bergembiralah, wahai Ummu ‘Alâ. Sesungguhnya Allah akan menggugurkan dosa-dosa orang yang sakit dengan penyakitnya, sebagaimana api menghilangkan kotoran-kotoran dari biji besi”. [Hadits hasan riwayat Abu Dawud, Shahîh at-Targhîb, 3438].

Dalam melakukan kunjungan kepada si sakit, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam duduk berdekatan dengan arah kepala orang yang sakit. Atau meletakkan tangan di kening, wajah dan mengusap-usap dada dan perut si sakit. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menanyakan kondisinya. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam juga pernah menanyakan tentang apa yang diinginkan oleh orang sakit itu. Apabila menginginkan sesuatu yang tidak berbahaya, maka beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam meminta seseorang untuk membawakannya. Dan sembari menempelkan tangan kanannya di tubuh orang yang sakit, beliau Shallallahu 'alaihi wa salalm melantunkan doa (di antaranya):

أَسْأَلُ اللَّهَ الْعَظِيمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ أَنْ يَشْفِيَكَ

Aku memohon kepada Allah Yang Maha Agung, Penguasa Arsy yang agung untuk menyembuhkanmu. Dibaca tujuh kali. [Lihat Shahîh Adabil-Mufrad, 416].

Tidak ada ketentuan khusus mengenai hari maupun waktu untuk berkunjung. Kapan saja, seseorang dapat membezuk orang sakit. Akan tetapi, seyogyanya, pembezuk memilih waktu-waktu yang cocok untuk berkunjung, supaya tidak menjadi beban dan memberatkan orang yang sedang dikunjungi. Selain itu, kunjungan itu hendaklah singkat saja, kecuali jika dikehendaki oleh si sakit, atau jika memberikan maslahat baginya.

Inilah pemandangan yang begitu indah, ketika kaum mukminin menyatu bak satu tubuh. Kegembiraan seorang muslim akan membuat semua tersenyum. Dan kesedihan satu orang saja, sudah menyebabkan semua orang bermuram durja. (mas)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XI/1429H/2008M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]

Jumat, 22 April 2011

Meneladani Nabi Ibrahim a.s


(Oleh: Ustadz Rizal Yuliar)
Allâh Ta'ala telah menciptakan jin dan manusia dan mengujinya dengan berbagai kenikmatan-Nya yang agung dan anugerah-Nya yang berlimpah. Sebagian manusia ada yang memanfaatkannya dengan baik dan bersemangat dalam memenuhi kewajibannya, dan sebagian lagi ada yang lalai terhadap apa yang telah menjadi kewajibannya. Di antara ujian yang diberikan Allâh Ta'ala atas umat manusia saat ini, yaitu agar mereka ber-ittiba' (mengikuti) Rasul-Nya, Muhammad Shallallâhu 'Alaihi Wasallam.
Para nabi berada di atas agama yang sama, yakni ber-tauhid (beribadah semata-mata hanya kepada Allâh Ta'ala) meskipun dengan syariat yang mungkin berbeda. Sehingga, mengikuti Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam merupakan bagian dari mengikuti jejak para nabi dan sekaligus dibarengi dengan kecintaan terhadap mereka.
Apabila seorang hamba meyakini bahwa seluruh nabi adalah sebaik-baik manusia ciptaan Allâh Ta'ala dan mereka adalah hamba-hamba yang berhak mendapatkan pertolongan Allâh Ta'ala, maka ia juga akan menyakini pentingnya arti meneladani para nabi. Terlebih hal itu telah dipertegas oleh Allâh Ta'ala dalam firman-Nya:

Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allâh,
maka ikutilah petunjuk mereka.
Katakanlah: "Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al-Qur`ân)."
Sesungguhnya Al-Qur`ân itu tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh umat".

(Qs. al-An'âm/6 : 90)
Melalui firman-Nya (Al-Qur'an) Allâh Ta'ala telah menceritakan kisah para nabi dalam banyak ayat. Yang terbaik di antara mereka mendapat sebutan sebagai ulul-'azmi di kalangan para rasul, dan sebaik-baik mereka adalah al-khalilân (dua kekasih Allâh Ta'ala).
Kisah-kisah dalam Al-Qur'an tersebut pasti bukanlah sesuatu yang sia-sia. Allâh Ta'ala berfirman, yang artinya:
"Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Qur'an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang yang beriman."
(Qs. Yûsuf/12 ayat 111)
Firman Allâh Ta'ala, yang artinya:
"Dan semua kisah dari rasul-rasul yang Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pelajaran dan peringatan bagi orangorang yang beriman."
(Qs. Hûd/11 ayat 120)
Demikian juga dengan kisah Nabi Ibrâhîm 'alaihissalam.
Namun, sebelum kita mengkaji sebagian kisah perjalanan hidup Nabi Ibrâhîm 'alaihissalam, ada beberapa hal mendasar yang perlu kita perhatikan dengan seksama.[1]
Pertama, manhaj nabawi yang diwariskan Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam dalam tazkiyatun-nufûs (pensucian jiwa) adalah manhaj seluruh nabi. Bahkan itu merupakan salah satu rukun kenabian dan merupakan tugas utama yang dipikul Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam. Hal ini pula yang telah menjadi rukun utama dakwah Nabi Ibrâhîm 'alaihissalam sebagaimana difirmankan Allâh Ta'ala (Lihat surat al-Baqarah/2 ayat 127-129).
Kedua, tazkiyatun-nufûs merupakan prinsip dasar dalam mewujudkan kehidupan secara Islami berlandaskan manhaj Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam dalam menggapai kebahagiaan hakiki.
Ketiga, metode pendidikan modern yang dianggap mampu memberikan jalan keluar bagi banyak problematika ternyata menjadi senjata tajam yang justru dapat membahayakan umat Islam dalam semua sisi kehidupan mereka, lantaran metode tersebut kerap kali berseberangan dengan manhaj yang diterapkan oleh para nabi atas umat mereka dengan bimbingan wahyu Allâh Ta'ala.
Keempat, memahami dengan baik manhaj para nabi dalam tazkiyatun-nufûs dapat memberikan gambaran tentang kelurusan aqidah, kesabaran ibadah, kemuliaan akhlak, keindahan mu'amalah, keteguhan prinsip, dan lain sebagainya.
Oleh karena itu, insya Allâh Ta'ala, pembahasan kali ini memuat beberapa pelajaran tarbiyah dan nilai tazkiyatun-nufûs yang dipetik dari kisah perjalanan Nabi Ibrâhîm 'alaihissalam.

BEBERAPA PELAJARAN PENTING DARI PEMAPARAN KISAH NABI IBRAHIM
Keteguhan Ibrâhîm 'alaihissalam dalam Mendakwahkan Tauhid kepada Ayahnya.
Unsur terpenting dalam proses penyucian jiwa ialah dengan menegakkan tauhidullah, menjadikannya sebagai pilar utama sehingga mempengaruhi unsur-unsur lain dalam jiwa. Apabila tauhid seseorang baik, maka baik pula unsur lainnya. Demikian sebaliknya, apabila tauhid seseorang buruk, hal itupun akan sangat berpengaruh dalam setiap gerak langkah kehidupannya. Dan kita berharap semoga Allâh Ta'ala selalu memberikan taufik dan petunjuk-Nya.
Dalam mempelajari perjalanan hidup Nabi Ibrâhîm 'alaihissalam, kita akan mendapatkan diri beliau sebagai insan yang sangat teguh dan gigih dalam menegakkan hak Allâh Ta'ala yang agung, yakni tauhid. Hal ini dapat terlihat dalam beberapa momen, di antaranya:
A.
Dakwah tauhid kepada ayah beliau dengan sabar dan penuh santun.
Al-Hâfihz Ibnu Katsir rahimahullâh berkata,"�Penduduk negeri Harran adalah kaum musyrikin penyembah bintang dan berhala. Seluruh penduduk bumi adalah orang-orang kafir kecuali Ibrâhîm 'alaihissalam, isterinya, dan kemenakannya, yaitu Nabi Luth 'alaihissalam. Ibrâhîm 'alaihissalam terpilih menjadi hamba Allâh Ta'ala yang menghapus kesyirikan tersebut dan menghilangkan kebatilan-kebatilan yang sesat. Allâh Ta'ala telah menganugerahkan kepadanya kegigihan sejak masa kecilnya. Beliau diangkat menjadi Rasul, dan dipilih sebagai kekasih Allâh Ta'ala pada masa berikutnya.[2]
Awal dakwah tauhid yang beliau 'alaihissalam tegakkan, ialah diarahkan kepada ayahnya, karena ia seorang penyembah berhala dan yang paling berhak untuk diberi nasihat".[3]
Syaikh as-Sa'di rahimahullâh berkata,
"Ibrâhîm 'alaihissalam adalah sebaik-baik para nabi setelah Nabi Muhammad Shallallâhu 'Alaihi Wasallam, yang telah Allâh Ta'ala jadikan kenabian pada anak keturunannya. Dan kepada mereka diturunkan kitab-kitab suci. Dia telah mengajak manusia menuju Allâh Ta'ala, bersabar terhadap siksa yang ia dapatkan (dalam perjalanan dakwahnya), ia mengajak orang-orang yang dekat (dengannya) dan orang-orang yang jauh, ia bersungguh-sungguh dalam berdakwah terhadap ayahnya bagaimanapun caranya".[4]
Allâh Ta'ala berfirman:

Ingatlah ketika ia berkata kepada ayahnya;
"Wahai Ayahku, mengapa engkau menyembah sesuatu
yang tidak mendengar, tidak melihat
dan tidak dapat menolong engkau sedikit pun?"�

(Qs. Maryam/19:42)
Lihatlah, bagaimana Nabi Ibrâhîm 'alaihissalam mendakwahkan tauhid kepada ayahnya dengan ungkapan sangat lembut dan ucapan yang baik untuk menjelaskan kebatilan dalam perbuatan syirik yang dilakukannya?![5]
Penolakan ayahnya terhadap dakwah itu tidak menyurutkan semangat serta sikap sayang terhadap ayahnya dengan tetap akan memintakan ampunan, sekalipun permohonan ampun itu kemudian dilarang oleh Allâh Ta'ala.
Disebutkan dalam firman-Nya:

Dan permintaan ampun dari Ibrâhîm (kepada Allah) untuk ayahnya
tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkan kepada ayahnya itu.
Maka tatkala jelas bagi Ibrâhîm bahwa ayahnya adalah musuh Allâh Ta'ala,
maka Ibrâhîm berlepas diri darinya.
Sesungguhnya Ibrâhîm adalah seorang
yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.

(Qs. at-Taubah/9 : 114)
Dalam usaha yang lain, Ibrâhîm 'alaihissalam berdialog dengan ayahnya:

Dan (Ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada ayahnya, Azar:6 "Layakkah engkau menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat engkau dan kaummu dalam kekeliruan yang nyata"�.
(Qs. al-An'âm/6 ayat 74)
Syaikh as-Sa'di rahimahullâh berkata,
"Dan ingatlah (terhadap) kisah Ibrâhîm 'alaihissalam manakala Allâh Ta'ala memuji dan memuliakannya saat ia berdakwah mengajak kepada tauhid dan melarang dari berbuat syirik."[7]
Demikian, perjuangan dakwah tauhid yang disampaikan Nabi Ibrâhîm 'alaihissalam kepada kaumnya. Allâh Ta'ala menjadikannya sebagai bagian dari ayat-ayat Al-Qur'ân yang akan selalu dibaca dan dipelajari secara seksama.
Allâh Ta'ala berfirman, yang artinya:
Dan (ingatlah) Ibrâhîm, ketika ia berkata kepada kaumnya: "Sembahlah Allah dan bertakwalah kepada-Nya, yang demikian itu lebih baik bagimu, jika kamu Mengetahui."
(Qs. al-Ankabût/29 ayat 16)
Ibnu Katsir rahimahullâh berkata dalam menafsirkan ayat ini:
"Allâh Ta'ala mengkabarkan tentang hamba-Nya, Rasul dan kekasih-Nya, yaitu Ibrâhîm 'alaihissalam sang imam para hunafâ`, bahwa beliau 'alaihissalam berdakwah mengajak kaumnya untuk beribadah kepada Allâh Ta'ala semata dan tidak ada sekutu bagi-Nya, mengikhlaskan-Nya dalam ketakwaan, memohon rizki hanya kepada-Nya, dan mengesakan-Nya dalam bersyukur".[8]
Keteguhan dakwah tauhid yang diperjuangkan Nabi Ibrâhîm 'alaihissalam juga termaktub dalam firman Allâh Ta'ala surat al-Anbiyâ'/21 ayat 51-56. Dan dalam beberapa ayat disebutkan, bahwa dakwah tauhid kepada ayah dan kaumnya dilakukan secara bersamaan, seperti tersebut dalam surat asy-Syu'arâ/26 ayat 69, ash-Shâffât/37 ayat 84.

B.
Nabi Ibrâhîm 'alaihissalam tegar dan tabah menghadapi ujian dan siksaan
Sikap ini tercermin dalam kisah beliau 'alaihissalam saat berdakwah mengajak manusia untuk bertauhid dan mengesakan Allâh Ta'ala, namun kebanyakan mereka menolaknya dengan penuh kenistaan. Ketabahan Nabi Ibrâhîm 'alaihissalam ini menjadi teladan bagi setiap dai dalam mengajak manusia menuju jalan yang diridhai Allâh Ta'ala.
Kisah ketabahan Nabi Ibrâhîm 'alaihissalam diabadikan dalam Al-Qur'ân melalui firman-firman-Nya. Meskipun kaumnya bertekad untuk membakar dirinya, namun Nabi Ibrâhîm 'alaihissalam tetap tabah dan menyerahkan segala perkara kepada Allâh Ta'ala (Lihat ayat-ayat dalam surat ash-Shâffât/37 ayat 95-98, al-Ankabût/29 ayat 22-25, al-Anbiyâ'/ 21 ayat 68-69).
Ath-Thabari rahimahullâh membawakan riwayat yang sanadnya sampai kepada as-Suddi rahimahullâh, ia berkata:
"Mereka menahannya dalam sebuah rumah. Mereka mengumpulkan kayu bakar, bahkan hingga seorang wanita yang sedang sakit bernadzar dengan mengatakan 'sungguh jika Allâh telah memberikan bagiku kesembuhan, maka aku akan mengumpulkan kayu bakar untuk membakar Ibrâhîm'. Setelah kayu bakar terkumpul menjulang tinggi, mereka mulai membakar setiap ujung tepian dari tumpukkan itu, sehingga apabila ada seekor burung yang terbang di atasnya niscaya ia akan hangus terbakar. Mereka mendatangi Nabi Ibrâhîm 'alaihissalam kemudian mengusungnya sampai di puncak tumpukan tinggi kayu bakar tersebut"�.
Riwayat lain menyebutkan, beliau diletakkan dalam ujung manjanîq.[9]
Nabi Ibrâhîm 'alaihissalam mengangkat kepalanya menghadap langit, maka langit, bumi, gunung-gunung dan para malaikat berkata:
"Wahai, Rabb! Sesungguhnya Ibrâhîm 'alaihissalam akan dibakar karena (memperjuangkan hak-Mu)"�.
Nabi Ibrâhîm 'alaihissalam berkata,
"Ya, Allah, Engkau Maha Esa di atas langit, dan aku sendiri di bumi ini. Tiada seorang pun yang menyembah-Mu di atas muka bumi ini selainku. Cukuplah bagiku Engkau sebaik-baik Penolong".[10]
Mereka lantas melemparkan Nabi Ibrâhîm 'alaihissalam ke dalam tumpukan kayu bakar yang tinggi, kemudian diserukanlah (oleh Allâh Ta'ala ):
"Wahai api, jadilah dingin dan selamat bagi Ibrâhîm"�.[11]
Kemudian ath-Thabari rahimahullâh dan Ibnu Katsir rahimahullâh dalam tafsir mereka membawakan riwayat Ibnu 'Abbas radhiyallâhu'anhu dan Abu al-'Aliyah radhiyallâhu'anhu, dan keduanya berkata: "Jika Allâh Ta'ala tidak mengatakan 'dan selamat bagi Ibrâhîm 'alaihissalam,' niscaya api itu akan membinasakan Ibrâhîm 'alaihissalam dengan dinginnya"�.[12]

C.
Yakin terhadap kebesaran Allâh Ta'ala
Pada saat Nabi Ibrâhîm 'alaihissalam diletakkan di ujung manjanîq, ia dalam keadaan terbelenggu dengan tangan di belakang. Kemudian kaumnya melemparkan Nabi Ibrâhîm 'alaihissalam ke dalam api, dan ia pun berkata:
"Cukuplah Allâh Ta'ala bagi kami, dan Dia sebaik-baik Penolong"�.
Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari rahimahullâh dari Sahabat Ibnu 'Abbas radhiyallâhu'anhu, ia berkata:
"(cukuplah Allâh Ta'ala bagi kami dan Dia sebaik-baik penolong)� telah diucapkan Nabi Ibrâhîm 'alaihissalam tatkala ia dilemparkan ke dalam api."[13]
Demikianlah, Nabi Ibrâhîm 'alaihissalam sangat yakin dengan kebesaran, pertolongan dan perlindungan Allâh Ta'ala, karena beliau sedang memperjuangkan hak Allâh Ta'ala yang terbesar, yakni tauhid dalam beribadah kepada-Nya.

Perintah Allâh Ta'ala Berada di Atas Segalanya
A.
Kisah dalam hijrah bersama Hajar dan Ismail[14]
Ketika Ismail baru saja dilahirkan dan dalam penyusuan ibunya (Hajar), Nabi Ibrâhîm 'alaihissalam membawa keduanya menuju Baitullah pada dauhah (sebuah pohon rindang)[15] di atas zam-zam. Saat itu, tidak ada seorangpun di Makkah, dan juga tidak ada sumber air. Nabi Ibrâhîm 'alaihissalam meninggalkan jirâb, yaitu kantung yang biasa dipakai untuk menyimpan makanan.[16] Kantung itu berisi kurma untuk keduanya. Juga meninggalkan siqâ' (wadah air)[17] yang berisi air minum.
Kemudian Nabi Ibrâhîm 'alaihissalam berpaling dan pergi. Hajar mengikutinya sembari berkata:
"Wahai, Ibrâhîm! Kemana engkau akan pergi meninggalkan kami di lembah yang sunyi dan tak berpenghuni ini?"�
Hajar mengulangi pertanyaan itu berkali-kali, namun Ibrâhîm 'alaihissalam tidak menoleh, tak pula menghiraukannya. Kemudian Hajar pun bertanya:
"Apakah Allâh Ta'ala yang telah memerintahkan engkau dengan ini?"�
Ibrâhîm 'alaihissalam menjawab,
"Ya."�
Mendengar jawaban itu, maka Hajar berkata:
"Jika demikian, Allâh Ta'ala tidak akan meninggalkan kami"�.
Lantas Hajar kembali menuju tempatnya semula. Adapun Ibrâhîm 'alaihissalam, ia terus berjalan meninggalkan mereka, sehingga sampai di sebuah tempat yang ia tak dapat lagi melihat isteri dan anaknya.
Ibrâhîm 'alaihissalam pun menghadapkan wajah ke arah Baitullah seraya menengadahkan tangan dan berdoa:

"Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rizkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur."
(Qs. Ibrâhîm /14 ayat 37)

B.
Kisah Penyembelihan Ismail
Nabi Ibrâhîm 'alaihissalam berdoa:
"Wahai Rabb-ku, karuniakanlah untukku anak yang shalih"�
Maka Allâh Ta'ala memberikan kabar gembira kepadanya dengan kehadiran seorang anak yang mulia lagi penyabar. Dan tatkala anak itu saat mulai beranjak dewasa berusaha bersama-sama Ibrâhîm, Ibrâhîm berkata kepadanya:
"Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?"�
Isma'il 'alaihissalam menjawab:
"Wahai Ayahandaku, lakukanlah apa yang diperintahkan oleh Allâh Ta'ala kepadamu; insya Allah engkau akan mendapati diriku termasuk orang-orang yang sabar"�.
Saat keduanya telah berserah diri dan Ibrâhîm membaringkan anaknya di atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya), Allâh Ta'ala memanggilnya:
"Wahai Ibrâhîm, sungguh kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan kami menebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrâhîm (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian. (Yaitu) 'Kesejahteraan yang dilimpahkan kepada Ibrâhîm'. Demikianlah Allâh Ta'ala memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba Allâh Ta'ala yang mukminin." (Qs. ash-Shâffât/37 ayat 99-111)
Di dalam tafsir Qurthubi rahimahullâh[18] dan Baghawi rahimahullâh[19] disebutkan riwayat Ibnu 'Abbas radhiyallâhu'anhu, beliau berkata:
"Ibrâhîm 'alaihissalam dan Isma'il 'alaihissalam keduanya taat, tunduk patuh terhadap perintah Allâh Ta'ala. Ingatlah, renungkanlah kisah itu ... ketika keduanya akan melaksanakan perintah Allâh Ta'ala, dengan tulus dan tabah sang anak berkata:
"Wahai Ayahku, kencangkanlah ikatanku agar aku tak lagi bergerak."
"Wahai Ayahku, singsingkanlah bajumu agar darahku tidak mengotori bajumu maka akan berkurang pahalaku, dan (jika nanti) Bunda melihat bercak darah itu niscaya beliau akan bersedih."
"Dan tajamkanlah pisau Ayah, serta percepatlah gerakan pisau itu di leherku agar terasa lebih ringan bagiku karena sungguh kematian itu amat dahsyat."
"Wahai Ayah, apabila engkau telah kembali maka sampaikan salam (kasih)ku kepada Bunda, dan apabila bajuku ini Ayah pandang baik untuk dibawa pulang maka lakukanlah."
(Saat itu, dengan penuh haru) Ibrahim berkata:
"Wahai anakku, sungguh engkau adalah anak yang sangat membantu dalam menjalankan perintah Allâh Ta'ala."
Ibnu Katsir rahimahullâh berkata:[20]
"Ini adalah ujian Allâh Ta'ala atas kekasih-Nya (yakni Ibrâhîm 'alaihissalam) untuk menyembelih putranya yang mulia dan baru terlahir setelah beliau berumur senja. (Ujian ini terjadi) setelah Allâh Ta'ala memerintahkannya untuk meninggalkan Hajar saat Ismail radhiyallâhu'anhu masih menyusui di tempat yang gersang, sunyi tanpa tumbuhan (yang dimakan buahnya), tanpa air dan tanpa penghuni. Ia taati perintah Allâh Ta'ala itu, meninggalkan isteri dan putranya yang masih kecil dengan keyakinan yang tinggi dan tawakal kepada Allâh Ta'ala . Maka Allâh Ta'ala memberikan kepada mereka kemudahan, jalan keluar, serta limpahan rizki dari arah yang tiada disangka. Setelah semua ujian itu terlampaui, Allah menguji lagi dengan perintah-Nya untuk menyembelih putranya sendiri, yaitu Ismail radhiyallâhu'anhu. Dan tanpa ragu, Ibrâhîm 'alaihissalammenyambut perintah Allâh Ta'ala itu dan segera mentaatinya. Beliau 'alaihissalam menyampaikan terlebih dahulu ujian Allâh Ta'ala tersebut kepada putranya, agar hati Ismail 'alaihissalam menjadi lapang serta dapat menerimanya, sehingga ujian itu tidak harus dijalankan dengan cara paksa dan menyakitkan. Subhanallâh..."

C.
Perintah Allâh Ta'ala kepada Ibrâhîm 'alaihissalam untuk Berkhitan
Pada saat Ibrâhîm 'alaihissalam telah mencapai umur senja (delapan puluh tahun), ia diuji oleh Allâh Ta'ala dengan beberapa perintah, di antaranya agar beliau berkhitan. Sebagaimana hadits Abi Hurairah radhiyallâhu'anhu, ia berkata: Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda:
"Ibrâhîm 'alaihissalam berkhitan di usia beliau delapan puluh tahun." [21]
Beliau 'alaihissalam berkhitan dengan pisau besar (semisal kampak). Meskipun terasa sangat berat bagi diri beliau 'alaihissalam, namun hal itu tidak pernah membuatnya merasa ragu terhadap segala kebaikan perintah Allâh Ta'ala. Bahkan dalam sebuah riwayat, Ali bin Rabah radhiyallâhu'anhu menyebutkan bahwa :
"Beliau (Ibrâhîm 'alaihissalam) diperintah untuk berkhitan, kemudian beliau melakukannya dengan qadum. Maka Allâh Ta'ala mewahyukan:
"Engkau terburu-buru sebelum Kami tentukan alatnya".
Beliau mengatakan:
"Wahai Rabb, sungguh aku tidak suka jika harus menunda perintah-Mu."�[22]

D.
Perintah Allâh Ta'ala Untuk Membangun Ka'bah
Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrâhîm di tempat Baitullah (dengan mengatakan): "Janganlah kamu memperserikatkan sesuatu pun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orangorang yang beribadat dan orang-orang yang ruku' dan sujud. Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh"�
(Qs. al-Hajj/22 : 26-27)
Dalam Shahih Bukhâri[23] disebutkan, bahwasanya Ibrâhîm 'alaihissalam berkata:
"Wahai anakku, sesungguhnya Allâh memerintahkan aku sesuatu"�.
Ismail 'alaihissalam menjawab:
"Lakukanlah perintah Allâh Ta'ala kepadamu"�.
Ibrâhîm 'alaihissalam bertanya:
"Apakah engkau (akan) membantuku?"�
Ismail 'alaihissalam menjawab:
"Ya, aku akan membantumu"�.
Ibrâhîm 'alaihissalam berkata lagi:
"Sesungguhnya Allâh Ta'ala telah memerintahkan aku untuk membangun disini sebuah rumah"�.
(Nabi Ibrâhîm 'alaihissalam mengisyaratkan tanah yang sedikit tinggi dibandingkan dengan yang ada di sekelilingnya).
Saat itulah keduanya meninggikan pondasi-pondasi. Dan Ismail 'alaihissalam membawa kepada ayahnya batu-batu dan Ibrâhîm 'alaihissalam menyusunnya. Sehingga, ketika telah mulai tinggi, ia mengambil batu dan diletakkan agar Ibrâhîm 'alaihissalam dapat naik di atasnya.
Demikian, dilakukan oleh keduanya, dan mereka berkata:
"Ya Rabb kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."�
(Qs. al-Baqarah/2:127)

PELAJARAN DARI KISAH NABI IBRAHIM 'ALAIHISSALAM
Dari pemaparan kisah-kisah di atas, banyak pelajaran penting dan berharga yang dapat dipetik, di antaranya:
1.  Nabi Ibrâhîm 'alaihissalam adalah hamba Allâh Ta'ala dan Rasul-Nya yang amat taat kepada-Nya, sehingga Allâh Ta'ala menjadikannya sebagai hamba yang sangat disayangi.
2.  Pilar utama upaya tazkiyyatun-nufûs adalah dalam hal tauhid. Dan berdakwah menyeru kepada tauhid merupakan amanat yang dipikul para nabi, dan sekaligus menjadi panutan bagi setiap dai.
3.  Kesabaran dalam mendakwahkan tauhid dan ketabahan dalam menghadapi ujian di jalan itu, harus dilakukan sesuai dengan cara yang dicontohkan oleh para Rasul.
4.  Yakin terhadap Allâh Ta'ala merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam mengarungi kehidupan.
5.  Perintah Allâh Ta'ala merupakan hal terpenting di atas segalanya. Ketulusan hati dalam melaksanakan segala perintah Allâh Ta'ala adalah kebahagiaan. Maka selayaknya kita berupaya secara maksimal untuk melaksanakannya diiringi doa memohon taufik serta kemudahan dari Allâh Ta'ala .
6.  Segala contoh kebaikan telah ada pada diri para Rasul yang harus selalu menjadi suri tauladan bagi kita dalam setiap hal.

Wallahul Musta'ân
.
Marâji':
1.  Al-Bidayah wan-Nihayah, Ismail bin 'Umar bin Katsîr. Tahqîq: Dr. 'Abdullah 'Abdul-Muhsin at-Turki, 1417 H.
2.  Al-Jâmi'u li Ahkâmil-Qur'ân, Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi, Cetakan Mu'assatur-Risâlah, 1427 H.
3.  Al-Mu'jamul-Wasîth, Makatabtusy-Syurûq, Cetakan 2.
4.  Fathul Qadîr, Muhammad bin Ali asy-Saukani, Dârul-Fikr, 1414 H.
5.  Jami'ul-Bayân fi Ta'wîlil-Qur'ân, Abu Ja'far Muhammad bin Jarir ath-Thabari, Cetakan Dârul-Kutubil-'Ilmiyah, 1426 H.
6.  Ma'alimut-Tanzîl, Abu Muhammad bin Mas'ûd al- Baghawi, Cetakan Dârul-Ma'rifah, 1413 H.
7.  Musnadul-Imâmi Ahmad, Ahmad bin Hanbal, Cetakan Mu'assatur-Risâlah, 1420 H.
8.  Shahîh Bukhâri dengan Fat-hul-Bâri, Ibnu Hajar al 'Asqalâni, Cetakan Dârus-Salâm, 1421 H.
9.  Shahîh Qashashil-Anbiyâ', Syaikh Salim bin 'Id al Hilali, Cetakan Gharras.
10.  Tafsîrul-Qur'ânil-Azhîm, Isma'il bin 'Umar bin Katsîr, Cetakan Mu'assatur-Rayyân.
11.  Taisîrul-Karîmil-Mannân fî Tafsîrîl-Karîmir-Rahmân, Syaikh 'Abdurrahmân as-Sa`di, Cetakan Mu'assatur-Risâlah, 1417 H.
 http://majalah-assunnah.com/images/naskah/garis.gif
Disadur dari kitab Manhajul-Anbiyâ‘ fii Tazkiyatin-Nufûs, karya Syaikh Salim al-Hilali hafizhahullah, hlm. 8-9
Lihat Qs. al-Anbiyâ‘/21 ayat 51, yang artinya:
"Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrâhîm hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun) dan kami mengetahui (keadaan)nya."
Juga firman Allâh Ta'ala dalam surat an-Nisâ‘/4 ayat 125, yang artinya:
"Dan Allah menjadikan Ibrâhîm sebagai kesayangan-Nya."
Al-Bidâyah wan-Nihâyah, juz 1, hlm. 326.
Tafsir as-Sa‘di, hlm. 443.
Tafsir as-Sa‘di, hlm. 444.
Para ulama berbeda pendapat tentang nama ayah Nabi Ibrâhîm 'Alaihissalam. Namun yang benar –Insya Allâh- bahwa namanya adalah yang tertera dalam ayat ini. Lihat Tafsir ath-Thabari tentang ayat ini (5/240). Lihat juga Shahîh Qashashil-Anbiyâ‘, Syaikh Salim al-Hilali, hlm. 106.
Tafsir as-Sa‘di, hlm. 224.
Tafsir Ibnu Katsîr, Juz 3, hlm. 536.
Manjanîq, ialah alat pelempar batu besar jarak jauh. Lihat al-Mu‘jamul-Wasîth, hlm. 131 dan 140.
Ibnu Hajar rahimahullâh menyebutkan riwayat ini dalam Fathul-Bâri, Juz 6, hlm. 483.
Tafsir ath-Thabari, Juz 9, hlm. 43.
Tafsir ath-Thabari, Juz 9, hlm. 43, dan Tafsir Ibnu Katsîr, Juz 3, hlm. 246.
Shahîh Bukhâri dan Fathul-Bâri, Juz 8, hlm. 288, no. 4563.
Shahîh Bukhâri dan Fathul-Bâri, Juz 6, hlm. 478, no. 3364.
Lihat al-Mu‘jamul-Wasîth, hlm. 302.
Lihat al-Mu‘jamul-Wasîth, hlm. 114.
Lihat al-Mu‘jamul-Wasîth, hlm. 436.
Tafsir al-Qurthubi, Juz 18, hlm. 69.
Tafsir al-Baghawi, Juz 4, hlm. 33.
Shahîh Qashashil-Anbiyâ‘, hlm. 132.
Shahîh Bukhâri dan Fathul-Bâri (Juz 6, hlm. 468, no. 3356), Musnad Ahmad (Juz 14, hlm. 34-35).
Shahîh Bukhâri dan Fathul-Bâri, Juz 6, hlm. 472.

(Majalah As-Sunnah Edisi 08 Tahun XII)