Minggu, 17 April 2011

BERKENALAN DENGAN SALAF


SALAFIYAH DAN AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH

Diantara para da’i, ada yang selalu mengelak untuk memakai istilah salafiyah dan mereka hanya terfokus dengan istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, padahal mereka mengaku beraqidah salaf.
Mereka hanya memperkenalkan sifat dakwahnya dengan sebutan Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Mereka menyatakannya berkali-kali dalam muhadharah-muhadharah (ceramah-ceramah) dan majelis ilmu mereka.
Demikianlah, tatkala mereka tidak mau memakai istilah salafiyah, maka ini termasuk dari bukti keagungan dan kemuliaan Allah, agar dakwah yang haq (benar) berbeda dengan segala yang mengotorinya dan agar tersating dari segala kerancuan dan noda-noda.
Adapun penjelasannya mengapa istilah Ahlus sunnah wal Jama’ah mulai berkembang (dan muncul) adalah ketika fitnah-fitnah pada saat itu mulai berbenih bid’ah-bid’ah. Untuk itu, jama’ah kaum muslimin yang berpegang dengan sunnah terbedakan dengan yang lainnya.
Sehingga mereka dikatakan Ahlus Sunnah, sedang lawannya disebut Ahlul Bid’ah. Yang berpegang dengan sennah disebut juga dengan Al Jama’ah. Istilah ini merupakan asal nama mereka, yang terpisah dari hawa nafsu dan kebid’ahan.
Adapun pada masa kini, setiap kelompok dan aliran yang berbeda-beda memakai istilah ahlus Sunnah wal Jama’ah. Anda menyaksikan banyak kelompok yang menamakan diri –meski aturan-aturan yang mereka pakai berasal dari mereka sendiri- dengan istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
Sampai-sampai sejumlah tarekat sufi memakai istilah ini begitu juga Asy’ariyah, Maturidiyah, Barlawiyah dan yang semisalnya mengaku (dan mengatakan): “Kami adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.”
Bersamaan dengan itu mereka takut kalau memakai dan mensifati dakwah mereka dengan istilah salafiyah. Mereka berusaha menjauh dari manhaj salaf, sekalipun hanya sebatas nisbah (menyandarkan) apalagi mewujudkan manhaj salaf (dalam amal perbuatan).
Oleh karena itu, syiar ahlus Sunnah adalah mengikuti salafus shalih dan meninggalkan segala macam kebid’ahan dan perkara-perkara yang baru (dalam agama).[4]
Barangsiapa yang mengingkari, bahkan melecehkan salaf dan tidak mau mengikutinya, maka harus dibantah dan diluruskan ucapannya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Tidak ada kehinaan bagi siapa saja yang memperjuangkan mazhab salaf, menisbatkan diri kepadanya, bahkan wajib menerima yang demikian itu berdasar kesepakatan (para ulama), karena sesungguhnya mazhab salaf adalah pasti benar.”[5]
Saya bertanya-tanya, mengapa sebagian saudara kita terus memakai istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan mereka enggan untuk memakai istilah salafiyah.
Kita yakin bahwa mereka berada di atas aqidah salaf. Mereka menimba kebersihan aqidah tersebut, bahkan mereka tumbuh dan berkembang di tengah-tengah keluarga dan berbagai tingkat pendidikan tersebut.
Saya katakan, mengapa mereka tidak mencukupkan saja dengan memakai kata muslimin, kalau seandainya mereka takut atau khawatir akan mengantarkan kepada perpecahan, menurut pendapat mereka?!
Apabila mereka membolehkan menisbatkan diri dengan nama Ahlus Sunnah wal Jama’ah, maka tidak ada larangan jika memakai nama salafiyah sebagai nisbat kepada salafus shalih, tabi’in dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.
Akan tetapi saya katakan: “Tidak tersembunyi lagi, mengapa mereka terus menggunakan istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, karena mereka ingin menampakkan toleransi dan kelemahlembutannya kepada para penyelisih manhaj salaf serta jalannya.
Hal ini bertujuan agar luas ruang lingkupnya, bersemangat untuk mewujudkan kuantitas bukan kualitas, dan mengikuti jama’ah sebelumnya hanya sebagai uji coba.”
Saya telah mendengar sebagian orang yang menisbatkan dirinya kepada dakwah dan kebaikan, bahwa mereka ingin menghilangkan lambang-lambang dan penamaan-penamaan ini secara menyeluruh. Dan mereka masukkan juga di dalamnya nama salafiyah dengan dalil bahwa semua nama-nama dan lambang-lambang ini akan menjurus kepada perpecahan dan kelompok-kelompok.
Keinginan dan tujuan ini di dalamnya mengandung sisi kebenaran dan kebathilan. Kita sepakat atas penghapusan setiap syiar-syiar yang diada-adakan dan mengandung kebid’ahan. Bahkan kebanyakan syiar-syiar tersebut tidak diketahui kecuali baru-baru saja, sekitar lima puluh tahunan belakangan ini dan sebagiannya bahkan tidak sampai umurnya tercatat oleh zaman (karena setelah itu hilang).
Akan tetapi syiar salafiyah dan ahlus Sunnah bukan kelompok hizbiyah (kelompok yang menyelisihi sunnah) dan tidak pula bergabung dengan kelompok apapun. Salafiyah atau Ahlus Sunnah merupakan warisan pendahulu generasi pertama agama Islam ini.
Syiar salafiyah merupakan jalan yang paling dasar untuk memahami Islam. Tidak boleh disamakan dengan syiar-syiar yang muncul di zaman belakangan ini.
Mayoritas ulama yang menulis dalam masalah aqidah menetapkan nama ini, diantaranya:
1.     Al Hafidz Ismail at Taimi Al asbahani, beliau adalah ulama abad kelima. Beliau mengulang-ulang penyebutan madzhab salaf (dalam kitabnya) sampai tidak terhitung.
2.     Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Ketika beliau melihat sebagian orang yang menyelisihi aqidah yang lurus, seperti Asy’ariyah yang menamakan diri dengan nama Ahlus Sunnah wal Jama’ah, maka beliau mempergunakan nama as salaf untuk membedakan dengan kelompok bid’ah tersebut. Sebab, bagaimanapun juga kelompok Ahlul Bid’ah tidak mau menamakan diri dengan nama salafiyah.
Saya telah menelaah kitab Al Fatawa Al Hamawiyah dan saya menemukan pengulangan kata as salaf lebih dari tiga puluh tiga kali. Apakah (dengan itu) Syaikhul Islam (di anggap) sebagai pemecah belah umat ataukah orang yang pendek akalnya?
Lebih aneh lagi, sebagian penuntut ilmu yang juga memuliakan Syaikhul Islam dan manhajnya, bahkan mereka banyak bersandar dengan kitab-kitab beliau, lebih mengutamakan maslahah dengan cara meninggalkan penamaan salafiyah dan mencukupkan diri dengan istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Karena hal ini termasuk syiar yang luas cakupannya dan ini tidak diingkari oleh seorang pun di kalangan kaum muslimin pada saat sekarang.
Manhaj salaf bukanlah hasil karya orang-orang zaman sekarang, akan tetapi manhaj salaf, Ahlus Sunnah, Ahlul Hadits, atau Ahlul Atsar terdapat di dalam wahyu yang diturunkan (Al Qur’an dan As Sunnah) dengan penafsiran dan pengamalan generasi yang pertama lagi utama, yaitu generasi shahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in.
Termasuk salah satu perbuatan yang menyimpang dan salah satu bentuk kedzaliman adalah menyamakan manhaj salafi dengan syiar-syiar baru dan bid’ah.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Dan Allah telah meninggikan langit-langit dan meletakkan neraca (keadilan) supaya kalian jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan (penuh) keadilan dan janganlah kalian mengurangi neraca itu.” (Ar Rahman: 7-9)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar