Minggu, 17 April 2011

Untaian nasehat Ibnu Taimiyyah : ” Niat lebih sam­pai daripada amalan”



Disusun oleh Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja

Ibnu Taimiyyah per­nah ditanya ten­tang sabda Nabi –sallallahu ‘laihi wa sallam
نِيَّةُ الْمَرْءِ أَبْلَغُ مِنْ عَمَلِهِ
“Niat seseorang lebih sam­pai daripada amalannya”
Maka beliau men­jawab, “Per­kataan ini telah disebutkan oleh lebih dari satu orang, dan sebagian orang menyebutkan per­kataan ini dengan secara marfu’ (disan­darkan kepada Nabi). Adapun pen­jelasan per­kataan ini maka dari beberapa segi;
Per­tama : sebuah niat yang kosong dari amalan (tanpa diser­tai amalan) tetap diberi pahala, adapun amalan tanpa diser­tai niat maka tidak diberi pahala. Al-Qur’an dan Sun­nah serta kesepakatan para ulama telah menun­jukan bah­wasanya barang­siapa yang meng­er­jakan amalan-amalan sholeh tanpa diser­tai keikh­lasan maka tidak akan diterima oleh Allah. Telah valid dari Nabi –dari banyak jalan hadits– bah­wasanya beliau bersabda:
مَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كُتِبَتْ لَهُ حَسَنَةٌ
“Barang­siapa yang ber­niat hen­dak melakukan suatu kebaikan lalu dia tidak melak­sanakan­nya maka dicatat baginya satu kebaikan“
Kedua : Barang­siapa yang ber­niat melakukan kebaikan lalu ia meng­er­jakan­nya semam­punya dan tidak sang­gup untuk menyem­pur­nakan amalan ter­sebut maka ia akan mem­peroleh pahala amalan ter­sebut secara sem­purna. Seba­gaiamana dijelaskan di dalam shahihain (shahih Al-Bukhari dan shahih Mus­lim) bah­wasanya beliau bersabda:
إنَّ بِالْمَدِينَةِ لَرِجَالًا مَا سِرْتُمْ مَسِيرًا وَلَا قَطَعْتُمْ وَادِيًا إلَّا كَانُوا مَعَكُمْ قَالُوا : وَهُمْ بِالْمَدِينَةِ قَالَ : وَهُمْ بِالْمَدِينَةِ حَبَسَهُمْ الْعُذْرُ
“Sesung­guh­nya di kota Madinah ada orang-orang yang tidaklah kalian menem­puh suatu per­jalanan dan tidaklah kalian melewati lem­bah kecuali mereka menyer­tai kalian”. Para sahabat ber­kata, “Padahal mereka di kota Madinah?”. Nabi ber­kata, “Iya, mereka di kota Madinah, mereka ter­halangi oleh udzur“
Imam At-Thirimidzi telah men­shahihkan hadits Abu Kabsyah Al-Anmaariy dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bah­wasanya beliau menyebut empat orang;
رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا وَعِلْمًا فَهُوَ يَعْمَلُ فِيهِ بِطَاعَةِ اللَّهِ . وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ عِلْمًا وَلَمْ يُؤْتِهِ مَالًا . فَقَالَ : لَوْ أَنَّ لِي مِثْلَ مَا لِفُلَانِ لَعَمِلْت فِيهِ مِثْلَ مَا يَعْمَلُ فُلَانٌ . قَالَ : فَهُمَا فِي الْأَجْرِ سَوَاءٌ وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا وَلَمْ يُؤْتِهِ عِلْمًا فَهُوَ يَعْمَلُ فِيهِ بِمَعْصِيَةِ اللَّهِ وَرَجُلٌ لَمْ يُؤْتِهِ اللَّهُ مَالًا وَلَا عِلْمًا فَقَالَ : لَوْ أَنَّ لِي مِثْلَ مَا لِفُلَانِ لَعَمِلْت فِيهِ مِثْلَ مَا يَعْمَلُ فُلَانٌ قَالَ : فَهُمَا فِي الْوِزْرِ سَوَاءٌ
“(Petama) seseorang yang Allah ber­ikan kepadanya harta dan ilmu, maka diapun meng­gunakan har­tanya dalam ketaatan kepada Allah. (Kedua) seseorang yang Allah ber­ikan kepadanya ilmu namun Allah tidak mem­berikan­nya harta, maka diapun ber­kata, “Kalau sean­dainya aku memiliki harta seperti si fulan (orang yang pertama-pent) maka aku akan ber­amal seba­gaimana amalan­nya.” Nabi ber­kata, “Maka keduanya sama-sama men­dapat­katkan pahala yang sama”.
(Ketiga) seseorang yang Allah ber­ikan kepadanya harta namun Allah tidak mem­berikan kepadanya ilmu, maka diapun meng­gunakan har­tanya untuk ber­mak­siat kepada Allah. (Keem­pat) seseorang yang tidak Allah ber­ikan kepadanya harta dan ilmu, maka dia ber­kata, “Kalau sean­dainya aku memiliki harta seperti si fulan (orang yang ketiga-pent) maka aku akan ber­buat seba­gaimana amalan­nya”. Nabi ber­kata, “Maka keduanya sama dalam men­dapatkan dosa”
Dalam shahihain dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bah­wasanya beliau bersabda,
مَنْ دَعَا إلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ اتَّبَعَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ دَعَا إلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْوِزْرِ مِثْلُ أَوْزَارِ مَنْ اتَّبَعَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ
“Barang­siapa yang menyeru kepada petun­juk (kebaikan) maka bagi dia pahala seba­gaimana pahala orang-orang yang meng­ikutinya, tanpa meng­urangi pahala mereka sama sekali. Dan barang­siapa yang menyeru kepada kesesatan maka ia men­dapatkan dosa seba­gaimana dosa orang-orang yang meng­ikutinya, tanpa meng­urangi dosa-dosa mereka sama sekali”
Dalam shahihain dari Nabi –shallallahu ‘alihi wa sallam– bah­wasanya beliau bersabda:
إذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مِنْ الْعَمَلِ مَا كَانَ يَعْمَلُهُ وَهُوَ صَحِيحٌ مُقِيمٌ

“Jika seorang hamba sakit atau sedang ber­safar maka akan dicatat baginya amalan seba­gaimana amalan yang biasanya ia lakukan tat­kala dalam keadaan sehat dan dalam keadaan muqim (tidak ber­safar)“

Dan dalil-dalil yang menun­jukan makna seperti ini banyak.
Ketiga : Sesung­guh­nya hati adalah rajanya badan, dan anggota-anggota badan adalah pasukan (anak buah) si hati. Jika si raja baik maka baik pula pasukan­nya. Dan jika sang raja buruk maka buruk pula pasukan­nya. Dan niat merupakan amalan­nya sang raja, ber­beda dengan amalan-amalan yang lahiriah maka itu merupakan amal per­buatan para pasukan.
Keem­pat : Sesung­guh­nya taubat­nya seseorang yang tidak mampu melakukan kemak­siatan sah (diterima oleh Allah) menurut Ahlus Sun­nah. Seperti taubat­nya seorang yang tidak memiliki kemaluan dari per­buatan zina dan taubat­nya orang yang tidak memiliki lidah dari per­buatan menuduh orang baik-baik, dan yang lain­nya. Asal taubat adalah kesung­guhan hati, dan ini bisa dilakukan bagi orang yang tidak mampu bermaksiat.
Kelima :  Sesung­guh­nya niat tidak akan dimasuki oleh fasad (kerusakan), hal ini ber­beda dengan amalan-amalan lahiriah. Karena niat asal­nya adalah cinta kepada Allah dan cinta kepada Rasul­Nya dan peng­harapan ter­hadap wajah Allah. Hal ini sen­diri dicin­tai oleh Allah dan Rasul­Nya, dan diridhoi oleh Allah dan Rasul­Nya. Adapun amalan-malan lahiriah maka bisa dimasuki banyak penyakit yang bisa merusak­nya (seperti riya’, sum’ah, ujub, tak­bbur, tidak ter­penuhinya rukun atau syarat dari amalan lahiriah ter­sebut, dll-pent). Barang­siapa yang tidak selamat dari penyakit-penyakit ini maka amalan lahiriah­nya tidak akan diterima oleh Allah.
Oleh karenanya amalan-amalan hati yang murni lebih afdhol dari pada amalan-amalan badan yang murni.
sebagian salaf berkata,
قُوَّةُ الْمُؤْمِنِ فِي قَلْبِهِ وَضَعْفُهُ فِي جِسْمِهِ وَقُوَّةُ الْمُنَافِقِ فِي جِسْمِهِ وَضَعْفُهُ فِي قَلْبِهِ

“Kekuatan seroang muk­min ter­letak pada hatinya, dan kelemahan­nya ter­letak pada badan­nya. Dan kekuatan seorang munafik ter­letak pada badan­nya dan kelemahan­nya ter­letak pada hatinya“

Adapu per­in­cian­nya maka butuh pem­bahasan yang pan­jang, wallahu a’lam”  (Majmuu’ al-Fataawaa 22/244–245)
Nasehat emas diatas meng­ingatkan kita untuk benar-benar mem­per­hatikan niat, dan hen­dak­nya kita mem­per­banyak niat untuk melakukan kebaikan, karena sesung­guh­nya niat yang baik sudah ter­catat di sisi Allah dan akan men­dapatkan gan­jaran di sisi Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar